Wednesday, September 3, 2008

Tujuan Hidup Atau Destiny

Pelayanan saya adalah sebagai pasukan pendoa syafaat di Uganda dan 38 negara lainnya. Karena itu saya banyak mengunjungi negara-negara lain. Dari pengalaman doa di Uganda, kami menimba banyak pelajaran. Kadang-kadang kami berpikir adalah wajar kalau kami melakukan sesuatu sesuai dengan Alkitab, tetapi setelah kami melakukannya kami menimba banyak pelajaran baru. Di banyak negara, gereja sedang bergumul untuk mencapai transformasi. Sejarah dan situasi setiap negara berbeda-beda.

Dengan demikian kunci bagi transformasi mereka juga berbeda. Namun, dari pengalaman di Uganda, rahasia terbesar dan universal adalah kemampuan masuk hadirat Tuhan dan menemukan tuntunanNya. Didalamnya kita memperoleh tuntunan, hikmat dan pewahyuan secara selangkah demi selangkah, tentang apa yang harus dilakukan untuk seterusnya.

Banyak orang, gereja dan bangsa yang berdoa dalam waktu yang sangat panjang sebelum mengalami jawaban doanya. Tuhan kita bukan pribadi yang suka mengulur-ulur waktu untuk menjawab doa kita. Masalahnya, kita tidak sedang berdoa sesuai dengan tuntunanNya, karena kita tidak mampu menangkap pesanNya. Tuhan menyampaikan pesan-pesanNya dengan bermacam-macam cara, yaitu mimpi, penglihatan dan sebagainya.

Kadang-kadang Dia berbicara melalui suara hati yang lembut sekali sehingga kita tidak mampu menangkap suara tersebut ditengah kegaduhan hidup kita. Kunci transformasi adalah pendoa syafaat yang peka akan tuntunan Tuhan.

HARI-HARI YANG JAHAT
"... Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri setelah menyelesaikan segala sesuatu." (Efesus 6:10-13).

Rasul Paulus memberi catatan bagi setiap pasukan (doa) bahwa mereka pada suatu waktu akan melewati "hari yang jahat." Tuhan memanggil banyak orang untuk berjalan bersama Dia. Kepada setiap orang Tuhan mempunyai dan memberikan tugas yang berbeda-beda. Ada orang yang memulai perjalanannya bersama Tuhan dengan begitu baik, penuh dengan kemenangan, tetapi sampai pada titik tertentu mengalami kekalahan. Itulah "hari yang jahat" bagi orang tersebut.

Firman Tuhan tidak mengatakan: jika (if) hari yang jahat datang padamu, tetapi pada saat (when) hari yang jahat datang padamu. Artinya hari yang jahat itu pada waktunya pasti akan datang, dan hal itu bukan sebuah kemungkinan, melainkan sebuah kepastian. "Hari yang jahat" itu bisa datang sebagai serangan dalam masa kegelapan yang menakutkan, tetapi ia juga bisa datang sebagai jerat yang indah-indah dan bagus pada pemandangan kita, membuat kita tertarik, terjerat dan dikuasai olehnya sehingga pada waktu kita melaluinya, kita bisa kehilangan iman dan kesetiaan kita kepada Tuhan.

Masalahnya, "hari yang jahat" itu tidak selalu mudah terdeteksi. Seseorang melalui jalan kegelapan dengan penuh perjuangan dan keluar sebagai pemenang, setelah itu tetap berdiri dengan hati yang hancur namun penuh hikmat Tuhan, dan orang melihat peningkatan pengurapan Tuhan atas dirinya. Seseorang yang lain seolah-olah tidak mengalami sesuatu, tetapi sebenarnya sedang melalui hari-hari penuh dengan godaan, namun tetap melakukan pelayanan yang sejak sebelumnya menjadi tugasnya, tetapi sebenarnya ia sedang melemah, mulai membelok, mengalami kerusakan dan kemerosotan, kehilangan iman, gairah cinta dan kesetiaan kepada Tuhan, dan dari luar hal itu tidak segera dapat terlihat.

Namun dengan berlalunya waktu, orang mulai bertanya-tanya: "Apakah benar Tuhan menciptakan dia untuk menjadi seperti ini?" Tidak peduli berapa panjangnya hari-hari yang jahat itu, kalau kita tidak berhati-hati, maka jalan hidup kita akan meleset dari apa yang sebenarnya Tuhan ingin kerjakan melalui hidup kita (destiny).

DESTINY
Saya ingin menyampaikan suatu pesan, yang mungkin akan merupakan pesan yang paling bernilai untuk saudara simpan di dalam hati, yaitu tentang destiny. Kata destiny dalam kamus bahasa Inggeris artinya: 'suatu perjalanan yang telah disiapkan untuk dilewati oleh seseorang.' Jelasnya, itu berarti rentetan peristiwa, yang dirancang dan tersusun untuk dialami oleh seseorang agar tiba di sasaran yang seharusnya dia capai.

Destiny bukan sekedar rentetan peristiwa, atau program-program dan jabatan-jabatan gerejawi. Destiny adalah sesuatu tentang tujuan akhir, dan perjuangan kita untuk mencapai garis akhir itu. Waktu kita dipanggil sebagai orang percaya dan kemudian melayani Tuhan sebagai apa saja, Tuhan punya sebuah tujuan akhir bagi kita, dan tujuan akhir itu telah ditetapkannya bahkan sebelum kita dibentuk dalam rahim ibu kita, artinya hal itu telah dideklarasikan di Surga. Orang itu tidak mengetahuinya, ibunya juga tidak mengetahuinya, orang lain juga tidak ada yang tahu, tetapi Tuhan dan Surga tahu.

Pada saat Yeremia masih muda, Tuhan datang kepadanya untuk memanggil dia menjadi nabi bagiNya. Yeremia berdalih bahwa dia masih muda, masih kanak-kanak, bagaimana mungkin hal itu terlaksana ? Dan Tuhan berkata : "Jangan berkata begitu, engkau bukan sekedar anak kecil, tetapi seorang nabi! Sebelum engkau dibentuk di dalam rahim ibumu aku telah mengenalmu (di Surga), memanggilmu, dan mengutusmu untuk ke bangsa-bangsa, untuk mencabut, untuk menghancurkan, untuk meruntuhkan, untuk membangun, untuk menanam dan untuk mendirikan. Aku juga tahu dampak dari pelayananmu bagi dunia.

Kalau engkau memenuhi panggilanmu itu, engkau akan mencapai garis akhirmu, dan Aku akan berkata : "Pulanglah hai hambaku yang setia, engkau telah menyelesaikan pekerjaanmu." Dan engkau akan pulang kepadaKu, menerima tempatmu, dan warisanmu untuk selama-lamanya, karena selama hidupmu engkau telah mengijinkan rencanaKu terjadi atas hidupmu." Itulah yang disebut destiny atau tujuan akhir hidup kita.

Alkitab menunjukkan, tidak semua orang berhasil mencapai tujuan akhir itu dengan sempurna. Ada orang yang memulai pencariannya dengan baik, tetapi di pertengahan perjalanannya mengalami suatu peristiwa, dan membelok dari tujuan, lari dari panggilan, karena tertarik oleh begitu banyak hal yang indah dalam dunia ini, dan hidupnya berakhir disitu.

Contohnya : Yudas Iskariot. Yesus memberikan perumpamaan tentang seorang kaya, yang bekerja keras, menghasilkan banyak, membuat lumbung untuk penyimpanan, dan berkata dalam hatinya: "Tenanglah jiwaku, damailah jiwaku, engkau telah bekerja keras, sekarang nikmatilah hasil jerih payahmu." Tetapi malam itu juga dia dipanggil pulang. Orang ini dalam dunia kelihatannya kaya sekali, tetapi dalam alam kekekalan tidak punya apa-apa, miskin sekali.

Ada dua tokoh alkitab yang sama-sama punya tujuan akhir yang dahsyat, tetapi berakhir secara berbeda, yaitu Saul dan Daud. Demikian pula dua tokoh besar lainnya, yaitu Salomo dan Paulus.

SALOMO, dipilih Tuhan menggantikan ayahnya menjadi pembangun Bait Allah. Tuhan berjanji kepada Daud: "Karena engkau setia, tahta kerajaan tidak akan meninggalkan rumahmu." Lalu Daud berpesan kepada Salomo : "... Lakukanlah kewajibanmu dengan setia kepada TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya kepadamu, dan dengan mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuanNya …dan supaya Tuhan menepati janjiNya tentang aku, yakni: jika anakmu laki-laki tetap hidup dengan setia, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, maka keturunanmu takkan terputus dari tahta kerajaan Israel." (I Raja 2:2-4).

Ketika Salomo mulai memerintah, suatu hari Tuhan datang dan bertanya kepadanya: "Apa yang kauinginkan dariKu?" Salomo menjawab: "Ya Tuhan, Engkau menjadikanku seorang raja, padahal aku masih sangat muda, berikan aku hikmat, supaya aku dapat memerintah dengan bijaksana." Tuhan menjawab:" Engkau meminta sesuatu yang baik, Aku akan memberimu hikmat, dan lebih dari pada itu kekayaan, kemakmuran, kemashuran, kebesaran." Sejarah mencatat tidak ada raja sehebat Salomo dalam hal-hal itu.

Tetapi kemudian datang "hari yang jahat" kepada Salomo, tidak seperti sebuah ledakan besar yang mengejutkan, dia mencatat: Aku berkata dalam hati, "Mari, aku hendak menguji kegirangan! Nikmatilah kesenangan! Tetapi lihat, juga itupun sia-sia." (Pkh 2:1).

Salomo mengijinkan godaan datang kepada dirinya untuk mengecap apa yang diinginkan, hasrat, kenikmatan dan sebagainya, kemudian memutuskan untuk mencobanya: Aku menyelidiki diriku dengan menyegarkan tubuhku dengan anggur, -sedang akal budiku tetap memimpin dengan hikmat- dan dengan memperoleh kebebalan, sampai aku mengetahui apa yang baik bagi anak-anak manusia untuk dilakukan selama hidup mereka yang pendek itu (Pkh 2:3).

Selanjutnya dalam ayat 4-9 Dia mengisahkan apa saja yang dilakukannya dalam mengisi hidupnya: mendirikan rumah, punya isteri dan gundik, mengusahakan kebun-kebun anggur, membeli budak, mengumpulkan emas perak, memelihara ternak dalam jumlah besar, melebihi siapapun yang pernah hidup di Yerusalem sebelum dia. Lihatlah orang ini, seorang raja yang sangat dahsyat, kekayaannya luar biasa, kemashurannya sampai kemana-mana. Raja-raja datang dari berbagai penjuru, untuk berkunjung dan mempersembahkan upeti. Perak seperti batu di jalan-jalan Yerusalem, emas terdapat dimana-mana. Ia berkata: "Aku tidak merintangi mataku dari apapun yang dikehendakinya dan aku tidak menahan hatiku dari sukacita apapun ..." (Pkh 2:10).

Dalam I Raja-raja 11 tertulis bahwa Salomo mencintai perempuan-perempuan asing, hatinya condong kepada allah-allah lain, yaitu Asytoret, dewi orang Sidon, dan Milkom, dewa kejijikan orang Amon dan : "Salomo melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, dan ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti Tuhan, seperti Daud, ayahnya" (ay.1-6).

Sampai akhirnya dia berkesimpulan bahwa : "Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang dilakukan tanganku dan segala usaha yang kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari." (Pkh 2:10-11). BERSAMBUNG.....

Sumber : Internet, Dept. Publikasi GBI Senayan, oleh : Rev. John Mulinde (dari Uganda).

No comments: