Wednesday, September 3, 2008

Tujuan Hidup / Destiny (2)


Volver
Kisah Salomo adalah salah satu kisah yang paling menyedihkan. Bagi banyak orang dia adalah seorang yang hebat, tetapi dalam kekekalan di Surga, dia kehilangan semua, bahkan kerajaan Israel Raya tidak berkelanjutan karenanya.

PAULUS, memulai pelayanannya sebagai Farisi tulen, tetapi tatkala matanya dicelikkan, dia berkata: "Apapun yang (tadinya) berharga bagiku, aku lepaskan supaya aku beroleh Kristus. Bahkan ketika aku berjalan bersama Kristus, kuputuskan untuk memberikan segalanya kepada Tuhan, meskipun hal-hal itu bagi sebagian orang adalah sesuatu yang sangat diinginkan dalam hidup, aku menganggap itu sebagai sampah, karena Kristus. Aku ingin mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya, dan persekutuan dalam penderitaanNya, supaya bisa serupa dengan Dia dalam kematian, jika aku bisa memasuki hari kebangkitan itu."

Paulus bertekad untuk hanya melakukan hal-hal yang mengalir dari Dia, yang langsung turun dari Surga. Dia tidak menganggap dirinya telah mencapai garis akhir, tetapi ini yang dia lakukan: "Aku melupakan segala sesuatu di belakangku dan menggapai hal-hal yang ada di depanku. Aku melupakan hal-hal hebat maupun hal-hal buruk yang pernah kubuat di belakangku dan memusatkan mataku ke garis akhir yang Tuhan taruh di depanku." Dia tidak membiarkan dirinya di penjara atau diperhamba oleh masa lalu, dan menjadi hamba Kristus.

Menuju ke akhir hidupnya Paulus menderita banyak hal, dia dikhianati oleh saudara-saudara seimannya, dipenjarakan, dikucilkan, serta melakukan banyak hal-hal besar, mujizat-mujizat besar, mendirikan gereja-gereja di mana-mana, memuridkan banyak orang yang kemudian menjadi hamba-hamba Tuhan yang hebat. Tetapi dia melupakan semuanya itu, sampai pada suatu hari ia berkata: "Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada harinya …" (II Timotius 4:6).

Inilah orang yang mengakhiri pertandingannya dengan baik, tidak seperti Salomo yang berkata: "Lihat, semua yang kulakukan, sia-sia, tidak ada artinya."

David Breiner adalah seorang misionaris yang melayani di antara suku-suku Indian di Amerika Utara. Selama masa pelayanannya, ratusan ribu orang Indian datang kepada Tuhan. Pada suatu saat dia memanggil saudaranya, John Breiner, dan berkata: "John, ambil alih pelayanan ini, tugasku sudah selesai." Kemudian dia hidup atau tinggal di rumah seorang revivalis lainnya, namanya Jonathan Edward. Setiap hari, kalau mereka sedang berdoa bersama, ia berseru:" Bapa, aku telah menyelesaikan pertandinganku, aku telah menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku. Sekarang bawa aku pulang, Tuhan." Dua bulan kemudian dia pulang dengan damai sekali.

Destiny, ditopang oleh tiga pilar :
1. Tuhan punya panggilan atas hidupmu.
Saudara bukan sekedar sebuah angka atau jumlah, juga bukan salah satu nomor dari sekian pendoa syafaat di Indonesia. Di Surga, saudara adalah sebuah pribadi yang unik dan spesial dihadapan Tuhan, dan Tuhan melengkapi saudara dengan karunia-karunia dan kemampuan-kemampuan khusus untuk menggenapi tujuan yang Tuhan siapkan bagi saudara.

Ada pengurapan yang siap dilepaskan pada saat saudara berdiri di garis start. Tuhan berkata: "Engkau akan berdoa kepadaKu, dan Aku akan menjawab. Engkau akan mencariKu dengan segenap hatimu dan menemukanKu. Ketika engkau mulai berdoa, engkau adalah bagian dari sebuah pasukan yang besar, dan ada sesuatu yang akan Aku lepaskan melalui dan dari hidupmu, dan itu bukan karena engkau sedang menjalankan sebuah program."

Pilar pertama adalah Panggilan Tuhan.

2. Dari satu darah, Tuhan menciptakan semua bangsa di dunia.
Manusia ditetapkan Tuhan untuk menguasai dan mewarisi bumi. Tuhan menempatkan orang-orangNya di geografis mana mereka harus berada untuk maksud tersebut. Dan juga masa-masa tertentu yang menjadi bagian mereka. Ketika lahir ke dunia, mereka menjadi bagian dari sebuah keluarga, suku dan bangsa tertentu. Artinya, jika kita tinggal di Indonesia, menjadi orang Indonesia, itu bukan sebuah kebetulan atau pun sebuah kecelakaan. Tuhan yang merencanakan bahwa kita lahir dan hidup di Indonesia, Tuhan yang menetapkan tanggal dan tempat kelahiranmu di Indonesia.

Ada kaitan antara ketepatan dan ketetapan itu dengan tujuan hidupmu, serta tujuan hidup generasimu. Ada sesuatu dalam hidupmu yang sedang ditunggu oleh lingkungan, kota, bangsamu, dan generasimu. Untuk tujuan itu sekarang saudara berada di situ, tetapi engkau tidak akan pernah menemukan tujuan itu sampai engkau mengasingkan dirimu dan menanti-nantikan Tuhan. "Karena orang yang menanti-nantikan Tuhan, kekuatannya akan diperbaharui, mereka akan berlari dan tidak akan menjadi lelah, mereka terbang tinggi seperti rajawali dan tidak akan lelah."

Tujuan hidup kita, terikat erat dengan bangsa dan generasi kita, artinya kita adalah sebuah komponen yang bersama dengan komponen lain akan saling melengkapi untuk mencapai tujuan Tuhan bagi bangsa ini. Ada hal-hal yang tidak Tuhan taruh dalam hidupmu, ditaruh Tuhan dalam hidup orang lain, sehingga kita tidak punya pilihan kecuali menyatu dan bersinergi. Di Uganda ada orang yang berkata: "Aku tidak ada urusan dengan kamu, ini cuma antara aku dengan Tuhan." Itu menjadi masalah.

Pilar Kedua : Tujuan hidup kita, terkait satu sama lain.

3. Destiny tidak berhenti sampai garis akhir itu tiba.
Tuhan menunggu kita di garis akhir, menunggu kita tiba di sana. Saat itu tiba, Dia akan memeteraikan hidup kita dan selesailah destiny kita. Apapun yang kita pikirkan dan lakukan, ingatlah akan satu hal ini: "Hari Pertanggung-jawaban," yaitu hari dimana Tuhan akan bertanya kepada kita: "Mengapa kamu lakukan itu? Mengapa kamu belok? Mengapa kamu begitu?" Hari dimana segala alasan atas penghindaran dan pengingkaran kita akan destiny kita menjadi sama sekali tidak berguna. Hari dimana makna satu-satunya daripada keselamatan adalah Salib, yaitu Dia yang telah menyerahkan segala-galanya agar kita diselamatkan, dan menjadi pemenang. Pertanyaan terbesar hari itu adalah: Mengapa kita tidak (bisa) menjadi pemenang?

Pilar Ketiga : Jangan berhenti berjuang, sampai di garis akhir!

Ada banyak hal dalam hidup yang bisa menjadi musuh kita, sehingga pikiran kita gagal, perbuatan kita gagal, perkataan kita gagal, dan secara menyakitkan, kesetiaan kita gagal. Lalu kita berusaha menutupi kegagalan-kegagalan itu. Celakalah jika orang lain tahu apa yang sebenarnya diketahui oleh Tuhan itu!

Tuhan tahu rencana yang Dia miliki bagi hidup kita, bukan rencana untuk gagal, tetapi rencana yang penuh pengharapan, untuk membawa kita ke tujuan hidup kita. Dan Tuhan menantikan kita untuk datang ke hadiratNya dengan tidak menunda-nunda. Iblis selalu berusaha mencuri waktu kita, satu hari yang kita tunda dari Tuhan adalah satu hari yang dicuri iblis dari kita. Suatu hari kelak, habis jatah hari kita, hari yang terakhir akan datang dan tamatlah sudah. Di Surga akan ditulis: "Dia telah menyelesaikan tujuan hidupnya" atau “Dia tidak mencapai garis akhirnya”.

Destiny adalah rencana hidup yang telah Tuhan sediakan bagi kita untuk kita lalui, sampai kita mencapai tujuan akhirnya dan bertemu dengan Tuhan. Jangan ada sesuatu yang menghalangi saudara untuk melakukan yang terbaik yang Tuhan sudah sediakan bagi saudara. Apakah saudara ingin seperti Salomo, yang kelihatannya melakukan hal-hal hebat di hadapan orang tetapi tidak masuk ke tujuan akhirnya? Atau seperti Paulus yang telah menyelesaikan pertandingan yang baik, yang telah memelihara iman dan mendapat mahkota.

Sumber : Internet, Dept. Publikasi GBI Senayan, oleh : Rev. John Mulinde (dari Uganda).

No comments: